Saksi Ahli, Kornelius Simanjuntak: Peristiwa Penyitaan, Menciderai Rasa Keadilan Nasabah WanaArtha

Sabtu | 05 Juni 2021 | 22:43:15 WIB
Kejaksaan Agung RI

FOTO : ISTIMEWA/MEDIAKOTA

MEDIAKOTA.COM,-Jakarta,--
Sidang Permohonan keberatan nasabah PT. Asuransi Jiwa Adisarana Wanartha yang tergabung di group Swanaartha kembali disidangkan, menghadirkan 2 saksi ahli, di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, (3/6).

Saksi ahli pertama yakni Jo Denie CRP, CSA, CTA seorang ahli pasar modal, memberikan kesaksian terkait saham-saham yang di transaksikan di bursa efek Indonesia.

Menurut saksi ahli, terkait saham-saham yang naik secara signifikan itu diatur di bursa efek Indonesia dan OJK, begitu juga saham-saham yang akan go publik sudah ditelaah oleh bursa efek Indonesia, kemudian jika di setujui akan di lanjutkan lagi ke OJK, jadi yang memberikan izin perusahaan atau emiten itu tercatat di bursa efek Indonesia adalah OJK," terang Jo Deni.

Dikatakan Jo Deni, terkait PT Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha, saham-saham yang disita bukan hanya saham-saham yang tercatat di 2012 hingga 2018 tetapi saham-saham yang tidak terkait juga ikut di sita.

Menurutnya kesaksian yang di berikan di ruang sidang adalah berdasarkan mekanisme perdagangan saham, jadi jika saham-saham itu memang terlibat kejahatan boleh-boleh saja di sita, tetapi saham-saham yang tidak terkait seharusnya tidak di sita.” terang saksi ahli Jo Denie.

Di waktu bersamaan, saksi ahli Dr. Kornelius Simanjuntak SH, MH, selaku Ketua Badan Mediasi dan Arbitrase Asuransi Indonesia, mengatakan semua jawaban yang ia berikan sesuai keahlian dan kepakaran yang ia miliki.

Menurutnya, patut di sayangkan apa yang terjadi di dalam perampasan dana premi milik nasabah perusahaan asuransi seharusnya itu tidak terjadi karena nasabah perusahaan asuransi telah mengikat perjanjian dengan perusahaan asuransi, di sana para nasabah memiliki hak-haknya," Ucap Kornelius Simanjuntak

Di ketahui bahwa PT. Asuransi Jiwa Adi Sarana Wanaartha tidak dapat membayarkan kewajibannya terhadap nasabah akibat pemblokiran oleh Kejaksaan terkait kasus Jiwasraya.

"Tetapi di sayangkan terjadi peristiwa tindak pidana pada perusahaan asuransi lain dan telah di tetapkan tersangkanya. Sedangkan perusahaan lain yang di duga terkait sampai sekarang tidak di lakukan penyidikan dan penyelidikan bahkan tidak ada ditetapkan sebagai tersangka, berarti mereka tidak terlibat dan tidak bersalah di dalam peristiwa yang menyeret perusahaan lainnya, jadi dasar hukum penyitaan tersebut tidak kuat," Terang Kornelius Simanjuntak.

"Peristiwa penyitaan itu telah menciderai rasa keadilan bagi pemegang polis yang sama sekali tidak bersalah." ucap ahli di bidang Asuransi ini prihatin.

"Saya berharap majelis yang mulia tempat bersandar para nasabah, tempat meminta keadilan agar permohonan dapat di penuhi." Harapnya.(f/red)